Open Your Eyes, Mind and Heart Always be The Best Be Positives

Friday, June 26, 2015

Dasar-Dasar Budidaya Perairan "Ikan Gurami"

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Ikan Gurami (Osphronemus goramy) adalah sejenis ikan air tawar yang populer dan disukai sebagai ikan konsumsi di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di samping itu, di negara-negara lainnya gurami juga sering dipelihara dalam akuarium. Umumnya dikenal dengan nama gurami, ikan ini juga memiliki beberapa sebutan lokal seperti gurame (Sd.); grameh (Jw.); kalui (Jb.); ikan kali (Plg.), dan lain-lain.
            Ikan yang lebar dan pipih. Panjang tubuh (SL, standard length) 2,0-2,1 kali tinggi tubuh; panjang tubuh total (dengan sirip ekor) bisa mencapai 1.000 mm. Sirip perut dengan jari-jari pertama yang pendek berupa duri dan jari-jari kedua yang lentur panjang serupa cambuk. Rumus sirip punggung (dorsal) XI-XIV (jari-jari keras atau duri) dan 12-14 (jari-jari lunak); sementara sirip dubur (anal) X-XI dan 20-23. Ikan yang muda memiliki moncong yang meruncing, dengan 8-10 pita melintang (belang) di tubuhnya. Jika beranjak dewasa warna-warna ini memudar, dan kepala ikan akan membengkak secara tidak teratur.
            Ikan gurami terutama digemari sebagai ikan konsumsi. Dagingnya padat, durinya besar-besar, rasanya enak dan gurih. Gurami hampir selalu tersedia di restoran, untuk dijadikan pelbagai macam masakan terutama gurami bakar dan gurami asam-manis. Ikan ini berharga cukup mahal. Gurami juga disukai sebagai ikan hias akuarium.
            Gurami semula menyebar di pulau-pulau Sunda Besar (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan), namun kini telah dipelihara sebagai ikan konsumsi di berbagai negara di Asia (terutama Asia Tenggara dan Asia Selatan) serta di Australia. Di alam, gurami hidup di sungai-sungai, rawa dan kolam, termasuk pula di air payau; namun paling menyukai kolam-kolam dangkal dengan banyak tumbuhan. Sesekali ikan ini muncul ke permukaan untuk bernapas langsung dari udara.
            Induk gurami, untuk beberapa waktu lamanya, menjaga dan memelihara anak-anaknya. Telurnya dilekatkan di tetumbuhan air atau ditaruh di sarang yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Gurami terutama adalah pemakan tumbuhan, namun mau juga memangsa serangga, ikan lain, dan juga barang-barang yang membusuk di air. Dari sifatnya yang rakus tumbuhan itu, gurami juga dimanfaatkan sebagai pengendali gulma di kolam-kolam.
            Secara garis besar, budidaya gurami dibagi dalam 3 bagian utama, ini disebabkan pertumbuhan gurami yang lambat. ketiga bagian tersebut adalah:
  1. Pembibitan: Pembudidaya menyiapkan Induk Gurami (jantan dan betina) untuk dipijahkan (bertelur),
  2. Pendederan: Pembudidaya menetaskan telur menjadi larva hingga gurami dengan ukuran tertentu, biasanya ukuran 125 gram/ekor, atau 8 ekor/kg
  3. Pembesaran: Pembubidaya membesarkan gurami dari ukuran 125 gram/ekor menjadi 400 gram hingga 1 kg/ekor, umumnya disebut sebagai ukuran konsumsi.
            Pembudidaya gurami dapat memilih ketiga bagian tersebut atau memilih salah satu bagian saja, biasanya berhubungan dengan luas lahan dan kemampuan budidaya. Dapat dilakukan pada kolam tanah, kolam semen, kolam plastik/terpal. Umumnya di kolam tanah dengan beberapa alasan. Induk gurami akan terangsang dan segera memijah pada kolam tanah yang sudah dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3-4 hari, kolam berukuran 6 x 20 m2 ditempatkan beberapa pasang induk. Pasangan gurami terdiri atas 3 ekor betina dan 1 ekor jantan. Induk yang baik setelah berusia 3 tahun atau lebih, dengan bobot lebih dari 3 kg/ekor. Setiap induk gurami betina dapat menghasilkan 3,000 hingga 10,000 butir telur pada setiap kali bertelur, jumlah telur berkaitan dengan usia dan jenis (species) induk.
            Ketinggian air pada kolam antara 80 - 100cm, agar induk gurami dapat dengan leluasa membangun sarang untuk bertelur. Seperti umumnya keluarga/(family) Osphronemidae induk gurami, akan membangun sarang untuk bertelur. Gurami yang hidup di alam, akan membangun sarang menggunakan bahan dari rumput kering sekitar tepi danau, rawa, sungai (lubuk) dsb. Pada budidaya, pembudidaya menyediakan bahan sarang berupa rumput kering, ijuk atau sabut kelapa yang sudah disisir, yang ditaruh pada para-para dari bambu atau bahan lainnya. Umumnya pembudidaya menggunakan ijuk karena mudah didapat.
            3 - 7 hari sejak penempatan induk gurami di dalam kolam, pasangan gurami akan membuat sarang dari bahan yang tersedia, pada budidaya biasanya menggunakan ijuk, induk gurami akan mengambil serat-serat ijuk dan menganyam sarang menyerupai sarang burung. Induk betina akan menempatkan sejumlah telur pada sarang. Induk jantan akan menyemprotkan sperma pada kumpulan telur di dalam sarang. Saat tersebut ditunggu oleh pembudidaya yang akan mengambil sarang dengan hati-hati, dan mengeluarkan ribuan telur serta menempatkan pada wadah yang digunakan untuk penetasan, berupa akuarium, kolam/bak semen, bak fiber, ember, waskom dsb.
            2 hari sejak penempatan telur di dalam wadah/tempat penetasan, telur akan menetas menjadi larva, proses penetasan untuk seluruh telur yang terbuahi, akan berlangsung selama 4-5 hari. Larva sudah mulai bergerak dan berenang, tetapi belum memerlukan makanan, karena larva masih menggendong persediaan bahan makanan berupa kuning telur. Pembudidaya harus menyiapkan pakan setelah larva berusia 10 hari berupa tepung pakan ikan, cacing sutera (tubifex), artemia, kutu air (Daphnia), atau lainnya.
            Setelah 20 hari, tampak bentuk gurami kecil dengan ukuran sekitar 1 cm, dan biasanya pada usia 2 bulan (60 hari) ukuran gurami sudah mencapai 5 cm, ukuran ini sudah siap untuk ditebarkan ke kolam pembesaran. Sebagaian Pembudidaya Pendederan masih melanjutkan budidaya sampai ikan mencapai bobot sekitar 125 gram. Pendederan mulai usia 20 hari hingga 5-6 bulan, dilakukan di kolam semen, terpal, plastik dlsb. Pada pendederan jarang dilakukan di kolam tanah. Kolam dengan ukuran 4 x 6 m2, dapat ditebar bibit sebanyak 10,000 ekor. Pakan gurami setalah usia diatas 4 bulan, pembudidaya memberi pakan hijauan berupa cacahan daun kangkung, daun bira/sente, talas/keladi dsb.
Ikan Cupang
B. splendens
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:
Betta Sp.
B. persephone
B. picta - Cupang bintik
B. pugnax - Cupang penang
B. splendens - Cupang petarung
            Ikan Cupang (Betta sp.) adalah ikan air tawar yang habitat asalnya adalah beberapa negara di Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Ikan ini mempunyai bentuk dan karakter yang unik dan cenderung agresif dalam mempertahankan wilayahnya. Di kalangan penggemar, ikan cupang umumnya terbagi atas tiga golongan, yaitu cupang hias, cupang aduan, dan cupang liar. Di Indonesia terdapat cupang asli,salah satunya adalah Betta channoides yang ditemukan di Pampang, Kalimantan Timur.
            Ikan cupang adalah salah satu ikan yang kuat bertahan hidup dalam waktu lama sehingga apabila ikan tersebut ditempatkan di wadah dengan volume air sedikit dan tanpa adanya alat sirkulasi udara (aerator), ikan ini masih dapat bertahan hidup.
·         Jenis
Perkembangan variasi ditinjau dari segi bentuk dan warna terbilang pesat dalam beberapa generasi terakhir. Beberapa jenis cupang yang dikenal sekarang ini:
Betta pugnax (Forest Betta)
Betta taeniata (Banned Betta)
Betta macrostoma (Bruney Beauty)
Betta unimaculata (Golden Slender)
Betta picta (Painted Betta)
Betta anabantoides (Pearly Betta)
Betta edithae (Betta Brederi)
Betta foerschi (Purple Saphire Betta)
            Ikan cupang di atas dikenal sebagai mouth breeder yaitu ikan cupang yang mengerami telurnya di dalam mulut, sedangkan kelompok di bawah ini yang merupakan kerabat ikan cupang (betta), yang membangun sarangnya dengan busa (bublle nest)
Betta akarensis (Sarawak Betta)
Betta coccina (Clorat's Betta)
Betta bellica (Standard's Betta)
Betta tesyae (Peaceful Betta)
Betta smaragdina (Emerald Betta)
Betta imbelis (Slugger's Betta)
Betta splendens (Siamese Fighting Fish)
Jenis ikan cupang lain yang dikenal sebagai:
Betta albimarginata
Betta balunga
Betta breviobesus

Cupang hias

Cupang hias dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
·         Halfmoon (setengah bulan), cupang jenis ini memiliki sirip dan ekor yang lebar dan simetris menyerupai bentuk bulan setengah. Jenis cupang ini pertama kali dibudidaya di Amerika Serikat oleh Peter Goettner pada tahun 1982.
·         Crowntail (ekor mahkota) atau serit
·         Double tail (ekor ganda)
·         Plakat Halfmoon
·         giant (cupang raksasa), cupang jenis ini merupakan hasil perkawinan silang antara cupang biasa dengan cupang alam, cupang jenis ini ukurannya bisa mencapai 12 cm

DESKRIPSI IKAN MAS KOKI
Klasifikasi Sistematika ikan mas Koki adalah :
            Kelas               : Osteichthyes
            Sub Kelas        : Teleostei
            Ordo                : Cypriniformes
            Sub ordo         : Cyprinoidea
            Famili              : Cyprinidae
            Genus              : Carassius
            Spesies            : Carassius auratus

Morfologi Ikan Mas Koki
            Mas Koki memiliki tubuh gendut pendek, punggung agak bongkok, sirip yang lengkap seperti sirip punggung, sirip dada, sirip perut, dan sirip ekor. Bentuk badan mas Koki biasanya pendek dan gempal yang menjadi salah satu ciri khas tersendiri. Dibawah ini adalah ciri-ciri calon induk mas Koki yang siap dijadikan induk:

1. Umur calon induk minimal 8 bulan, tetapi yang lebih baik berumur 1 tahun.
2. Sehat dan tidak mengalami stress.
3. Tubuhnya tidak ada luka.
4. Tidak sedang terserang penyakit atau parasit.
5. Tubuhnya normal dan tidak cacat.

Habitat dan Penyebarannya
            Habitat Ikan Koki adalah air yang tergenang, aliran airnya lambat, dangkal , bersih dan biasanya berada didaerah sungai atau danau. Mas Koki dapat bertahan hidup pada air ber pH 6-7 dengan suhu 27-300 C, kandungan oksigen terlarut ≥ 5 ppm.

Jenis-Jenis Koki
            Saat ini varietas koki menyusut, dari ratusan menjadi lima belas saja yang dikenal dan digemari orang. Jenis-jenis itu sebagai berikut.
a. Lion Head (Kepala Singa)
            Koki jenis ini paling digandrungi hobiis dan harganya relative tinggi, tentu saja yang kualitasnya memenuhi standar kontes. Koki ini memiliki tubuh gendut dan pendek. Keindahan dan keunikannya terletak pada kepalanya yang berjambul mirip kepala singa (lion head). Selain itu, ciri khas lainnya adalah punggungnya yang bengkok dan tak bersirip. Sirip dada, perut dan ekor umumnya pendek. Hanya varian lion head slayer yang memiliki sirip ekor panjang menjuntai mirip selendang dengan warna kuning keemasan.
b. Pearl Scale (Sisik Mutiara)
            Selain lion head, pearl scale (terutama yang berjambul) juga banyak dicari orang. Sisik mutiara memeang mempunyai dua jenis, yakni yang berjambul (mutiara jambul) dan tidak berjambul (mutiara pingpong atau tikus). Koki ini memiliki sisik benjol-benjol seperti mutiara (pearl), yang umumnya berwarna putih kemerahan hingga kuning emas dengan warna dasar merah atau jingga. Sebenarnya, banyak sekali ragam warnanya, tetapi yang paling langka adalah yang berwarna hitam polos.
c. Tosa (Si Ekor Rumbai)
            Tosa paling mudah dijumpai di pasaran dan dikalangan pembudidaya. Strain ini sering juga disebut kokitosa. Bentuk tubuhnya membundar dengan ciri khas sirip punggung, sirip perut, dan sirip ekornya relative panjang. Bahkan jika pemeliharaan dan pertumbuhannya baik, sirip ekor ikan ini bisa melebihi panjang tubuhnya. Ketika berenang, ekornya yang panjang akan melambai-lambai mengikuti arus air.
d. Pencer (Oranda)
            Koki ini sekilas mirip dengan lion head. Jambul di kepalanya berwarna merah hingga jingga. Diduga lion head merupakan perkembangan dari oranda. Yang membedakan kedua jenis ini adalah adanya sirip punggung pad oranda. Sirip dada dan sirip ekornya juga lebih panjang daripada sirip yang dimiliki lion head. Warna tubuh oranda bermacam-macam. Bentuk tubuhnya pendek dan gemuk agak membulat, berkombinasi dengan sirip-sirip yang panjang melambai-lambai.
e. Calico (Kaliko)
            Ciri utama kaliko adalah kombinasi warna yang beraneka ragam. Dari jenis koki, kaliko adalah yang paling kaya akan warna. Uumnya, kombinasi warna tersebut merupakan perpaduan antara warna hitam, putih, jingga, biru, dan merah. Warna-warna terebut berpadu secara acak dan tidak beraturan. Semakin lengkap dan serasi perpaduan warnanya, harganya juga akan semakin mahal.
f. Bubble Eye (Mata Balon)
            Koki ini mempunyai keunikan berupa gelembung mirip balon yang menggantung dibawah matanya. Gelembung ini akan bergoyang-goyang ketika koki berenang. Bentuk fisik hamper sama denga koki lainnya, tubuhnya montok dengan sirip ekor mekar bercabang empat.
g. Sukiyu (Pompon)
            Secara umum, bentuk koki ini sama dengan jenis lion head. Ciri yang membedakannya adalah pada koki pompon terdapat jaringan seperti lumut dihidungnya, menyerupai kumis. Warna koki pompon masih sama dengan yang lain yaitu merah, putih, dan kaliko.
h. Fan Tail (Si Ekor Kipas)
            Bentuk tubuh dan kepalanya memiliki kesamaan dengan koki tosa. Hanya, sirip punggung dan ekornya lebih pendek. Sirip ekornya ini menyerupai kipas sehingga disebut koki ekor kipas (Fan Tail).
i. Tosakin
            Jenis ini juga hamper menyerupai koki tosa. Keistimewaannya adalah warna ekornya yang meriah menyerupai ekor burung merak.
PEMIJAHAN IKAN MAS KOKI
Perawatan Calon Induk
Bakalan induk yang terpilih sebaiknya dipisahkan berdasarkan jenis kelaminnya. Indukan koki akan siap dipijahkan setelah berumur 6-7 bulan. Selam dipisahkan, bakalan induk tersebut harus dirawat secara benar agar mendpatkan induk yang bagus. Pada dasarnya, merawat bakalan tidak jauh berbeda dengan merawat koki atau ikan hias pada umunya.
            Sebelum melakukan perawatan bakalan induk, pembudidaya haru menyiapkan kolam pemisahan bakalan induk yang berukuran 4 x 6 m. kolam ini sebaiknya pernah dipakai dan berlumut, tetapi sebelumnya lumutnya harus dibersihkan dan dikurangi terebih dahulu. Setelah itu kolam dikeringkan dan di jemur pada panas matahari kuarang lebih selama 2-3 hari. pengeringan ini bertujuan untuk mematikan bibit penyakit yang dapat menyerang koki selama perawatan.
            Selanjutnya, air dimasukkan kedalamya. Ketinggian air dikolam ini cukup 20-30 cm. sebaiknya air yang digunakan adalah air sumur yang sudah diendapkan selama 24 jam agar pH dan suhunya normal. Koki sebaiknya dimasukkan kedalam kolam saat suhu air rendah, yaitu pada pagi atau sore hari. Tujuanya untuk mengurangi stress pada koki saat dipindahkan. Kenaikan atau penurunan suhu yang perlahan pada pagi atau sore hari akan memudahkan koki beradaptasi. Bakalan induk yang bisa dimasukkan kedalamnya sebanyak 50 ekor.
Jika bakalan induk adalah hasil dari kolam sendiri, pemindahannya dapat dilakukan dengan menggunakan ember plastik. Caranya,masukkan ember kedala kolam sampai bibirnya tenggelam, biarkan koki berenang keluar dengan sendirinya. Jika bakalan induk diperoleh dengan membeli dari orang lain, pemindahannya dilakukan dengan melakukan adaptasi terlebih dahulu. Caranya, masukkan kantong plastik yang berisi koki kedalam kolam, biarkan selama 30 menit. Setelah 30 menit, suhu air didalam kantong plastik akan sama dengan suhu air di kolam. Kemudian, pengikat kantong plastic dapat dilepaskan dan dibiarkan koki keluar dengan lingkungan barunya.
Pemberian Pakan
            Setelah dilepaskan ke kolam yang baru, koki jangan langsung diberi makan. Biarkan koki tersebut mengenal lingkungan barunya terlebih dahulu. Frekuensi pemberian pakan yang ideal adalah dua kali sehari, yaitu pada pukul 10.00 pagi dan pukul 15.00 sore. Frekuensi ini di anggap ideal karena koki adalah jenis ikan yang mencari makan pada siang hari dan pada jam-jam tersebut kandungan oksigen di air sedang tinggi sehingga memacu nafsu makan koki.

Penggantian Air
            Penggantian air sebaiknya dilakukan satu minggu sekali dengan tetap memantau kondisi air. Jika suhu dan pH air mengalami perubahan atau air sudah tampak keruh, pergantian air harus dilakukan sebelum satu minggu. Pergantian air kolam yang terlalu sering tidak bagus untuk bakalan induk koki karena dapat melunturkan warnanya dan akan memaksa koki untuk terus beradaptasi dengan air yang baru. Namun, jika pergantian jarang dilakukan, bibit penyakit mudah muncul.

Penyortiran
            Tindakan penyortiran dimaksudkan untuk memilih bakalan yang unggul sekaligus untuk melakukan penjarangan. Setelah satu bulan dipelihara bakalan induk koki akan mengalami pertumbuhan yang amat pesat, sehingga populasinya harus dikurangi. Tindakan penyortiran dilakukan minimal setiap bulan hingga koki berumur enam bulan dan koki siap di pijahkan.

Persiapan Kolam Pemijahan
            Kolam pemijahan berukuran 1 x 4 m. fungsinya untuk mempertemukan induk jantan dan betina yang telah siap kawin. Sebelum melakukan proses pemijahan, terlebih dahulu kolam dibersihkan dari kotoran dan lumut. Kolam dikeringkan dan dijemur di panas matahari kurang lebih 2-3 hari untuk mematikan bibit penyakit yang tertinggal didalamnya. Selain itu, penjemuran akan membuat air terasa segar dan hangat ketika dimasukkan kedalam kolam.
Air dimasukkan kedalam kolam hingga ketinggian kurang lebih 20-25 cm. pada ketinggian ini seluruh air kolam akan mendapatkan sinar matahari yang cukup sehingga suhu air tetap hangat. Setelah itu, kedalam kolam perlu dimasukkan tanaman air sebagai substrat pelekatan telur koki.

Persiapan Calon Induk
            Setelah koki berumur 6-7 bulan, pemijahan mulai dapat dilakukan. Sebelu memijahkan koki, perhatikan cirri-ciri bakalan induk jantan dan betina. Ciri-ciri jantan yang siap memijah adalah sudah saling mengejar dan menggangu koki lainnya. Ciri lainnya adalah keluarnya cairan mani berwarna putih seperti santan atau susu dari lubang pengeluarannya. Cairan ini akan keluar jika perut koki sedikit ditekan kearah lubang pengeluaran. Keluarnya cairan ini merupakan pertanda bahwa sel kelamin koki telah matang sehingga sipa dipijahkan.
Ciri koki betina yang siap memijah adalah perutnya teras empuk dan lembek saat diraba. Jika perutnya terasa keras, berarti telur koki belum matang. Ciri lainnya, perut koki akan tampak membesar, lubang kelamin membengkak dan berwarna kemerahan, serta telur mudah keluar jika perut koki sedikit ditekan.
            Seleksi induk, beberapa pertimbangan yang dipakai untuk melakukan seleksi induk adalah bentuk fisik, ukuran berat, umur, tingkat kesehatan, dan kematangan gonad. Sekalipun ikan mas Koki diperairan tropis cenderung cepat matang gonad, namun umur ideal yang layak dan produktif untuk dipijah adalah 1 tahun dan beratnya telah mencapai 100 g/ekor. Induk yang akan dipijahkan harus sehat secara fisik, yaitu tidak terinfeksi oleh penyakit parasit.

Proses Pemijahan
            Setelah kolam pemijahan siap digunakan dan bakalan induk dipilih, pindahkan bakalan induk kedalam kolam pemijahan. Pemindahan induk ini sebaiknya dilakukan pada sore hari karena pada malam harinya koki jantan akan mengejar-ngejar koki betina sambil sekali-sekali menyentuh bagian belakang betina. Jika kondisi demikian terjadi, itu berarti pemijahan akan terjadi. Pada pagi harinya koki betina akan membalikkan tubuhnya sembil melepaskan telur, sedangkan koki jantan segera akan melepaskan sperma untuk membuahinya. Telur koki bersifat adhesif, yaitu akan menempel dibenda lain yang telah disediakan sebagai substrat pelekatan telur. Telur yang dihasilkan satu pasang induk koki dapat mencapai 1000-2000 butir, bahkan koki tosa dan black moor dapat mencapai hingga 8000 butir. Kedua induk dapat dipijahkan kembali sekitar 20 hari kemudian.

Penetasan Telur
            Dalam waktu 3-4 hari telur akan menetas menjadi burayak. Penetasan ini tergantung pada suhu air. Semakin hangat air, semakin cepat telur menetas. Telur yang tidak menetas, baik yang menempel disubstrat maupun yang tenggelam didasar kolam, harus segera dibuang. Telur yang tidak menetas ini dapat mengurangi pasokan oksigen didalam air dan membusuk menjadi sarang penyakit.
Sambil menunggu menetas, telur dapat dirawat seperlunya dengan mengganti air kolam. Penggantian air ini tidak dilakukan secara total, cukup separuh air kolam. Pergantian dilakukan dengan menggunakan selang plastik. Arus yang ditimbulkan oleh penambahan air baru jangan sampai mengenai telur yang menempel disubstrat karena telur akan terlepas dan tidak akan menetas. Sebelum berumur 6 hari burayak idak perlu diberi pakan karena masih mempunyai cadangan pakan dalam kantong kuning telurnya. Setelah itu barulah burayak diberi pakan kutu air.

Pendederan
            Setelah berumur 2 minggu, benih koki di pindahkan dari kolam pemijahan ke kolam pendederan. Untuk satu kolam pendederan berukuran 4 x 6 m, jumlah populasi yang bisa dimasukkan sebanyak 1000 ekor koki. Dikolam pendederan, benih mulai diberi pakan cacing sutera (tubifex) yang disaring dengan saringan berdiameter 0,5 mm. pemberian cacing sutera ini berguna untuk menggemukkan dan memacu pertumbuhan koki. Stelah berumur 20 hari, sebagian benih koki sudah dapat dijual kepasar untuk dibesarkan oleh pembudidaya lain.


1.2 Tujuan
           
1.      Mengenal berbagai macam jenis ikan yang dapat dibudidayakan,
2.      Mempelajari berbagai kegiatan budidaya,
3.      Mempelajari teknik-teknik pembudidayaan ikan Gurami di kolam, dan pembudidayaan ikan-ikan hias di akuarium,
4.      Mempempelajari jenis-jenis pakan ikan
5.      Dapat mengetahui berbagai macam permasalahan budidaya perairan.

1.3 Metode Penulisan
               
            Metode penulisan yang digunakan  adalah metode pustaka yaitu metode yang dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari pustaka yang berhubungan dengan alat, baik berupa buku maupun informasi di internet. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu melalui wawancara dengan pemilik usaha budidaya perairan secara langsung(tinjauan langsung ke lapangan/tempat kegiatan usaha budidaya).





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Deskripsi Ikan Gurame(Osphronemus gouramy)
            Ikan gurame merupakan jenis ikan konsumsi. Gurame merupakan jenis ikan air tawar, yang mempunyai bentuk badan agak panjang, pipih, lebar ke samping (compressed). Ikan Gurame umumnya berbentuk panjang dan ramping perbandingan antara panjang dan tinggi adalah 3 : 1. Sisiknya berukuran besar berwarna gelap pada siripnya. Badannya tertutup oleh sisik yang besar-besar, terlihat kasar dan kuat. Ukuran matanya besar dan menonjol tepiannya berwarna putih (Sugiarti, 1988).
            Menurut Bachtiar dkk (2002), dilihat dari morfologi atau bentuk tubuhnya ikan gurame memiliki ciri-ciri sebagai berikut bentuk badan memanjang dan sedikit pipih ke samping, mulut terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protektil) serta dihiasi dua pasang sungut. Selain itu di dalam mulut terdapat gigi kerongkongan, dua pasang sungut ikan gurame terletak di bibir bagian atas tetapi kadang-kadang satu pasang sungut rudimentee atau tidak berfungsi, gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) terdiri atas tiga baris yang berbentuk geraham.
            Menurut Nijiyati (1992), sirip ikan gurame terdiri dari limajenis yaitu sirip dada, punggung, perut, dubur dan ekor. Ikan gurame memiliki sirip punggung (dorsal) berbentuk memanjang dan terletak di bagian permukaan tubuh, berseberangan dengan permukaan sirip perut (ventral). Bagian belakang sirip punggung memiliki jari-jari keras, sedangkan bagian akhir berbentuk gerigi, sirip 5 dubur (anal) bagian belakang juga memiliki jari-jari keras dengan bagian akhir berbentuk gerigi seperti halnya sirip punggung. Sirip ekor berbentuk cagak dan berukuran cukup besar dengan tipe sisik berbentuk lingkaran (cycloid) yang terletak beraturan. Gurat sisik atau garis rusuk (linea lateralis) ikan gurame berada di pertengahan badan dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor.
            Bagian kepala gurame muda berbentuk lancip dan akan menjadi tampak bila sudah besar dan terdapat tonjolan seperti cula pada bagian kepala ikan jantan yang sudah tua. Mulutnya lebar dan bibir bagian bawah sedikit lebih maju dari pada bibir atas dan dapat disembulkan ( Sukamsipoetro, 1999 ). Warna badan umumnya biru kehitam-hitaman, bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna kecoklatan. Pada ikan gurame muda terdapat garis tegak berwarna hitam berjumlah ±7 -8 buah dan akan tidak terlihat bila sudah menjadi ikan dewasa (Respati & Santoso, 1993 ). ( lihat Gambar. 2. 1).
            Ikan gurame merupakan keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici. Ikan gurami berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia), dan menyebar ke Malaysia, Thailand, Ceylon dan Australia. Masyarakat Indonesia telah lama membudidayakannya karena mempunyai laju pertumbuhan yang relatif lambat, namun berdaya ekonomi yang tinggi (Dinas Perikanan Jateng, 1994).
Sirip Punggung
Sirip Dada
Sirip Perut
Sirip Anus
Sirip Ekor
Gambar 2.1. Ikan Gurame yang sehat
            Klasifikasi ikan gurame(Osphronemus gouramy menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut:
Phylum            : Chordata
Sub Phylum     : Vertebrata
Classis             : Pisces
Sub Classis      : Teleostei
Ordo                : Labyrinthici
Sub Ordo        : Anabantoidae
Famili              : Anabantidae
Genus              : Osphronemus
Species            : Osphronemus gouramy (Lacepede)

2.2 Deskripsi Penyakit Jamur
            Penyakit ikan merupakan segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan suatu fisik/struktur dari alat tubuh/ sebagian alat tubuh. Gangguan penyakit ini bisa secara langsung atau tak langsung Sachlan (dalam Afrianto & Evi, 1992). Organisme lain, pakan dan kondisi lingkungan yang kurang mendukung dapat sebagai sumber penyakit. Munculnya penyakit karena interaksi yang tidak seimbang antara ikan, kondisi lingkungan dan organisme penyakit.             Demikian, timbulnya serangan penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara ikan, lingkungan, dan jasad/organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan tubuh yang dimilikinya menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang oleh penyakit (Kordi, 2004).
            Menurut Supriyadi (2004), degradasi lingkungan lahan budidaya akibat tingginya cemaran dan kesalahan pengelolaan budidaya yang merupakan akibat dari kurang efisiennya bahan baku produksi merupakan salah satu penyebab munculnya penyakit ikan. Munculnya penyakit ikan akan berpengaruh pada produksi perikanan yang nantinya merugi.
            Menurut Afrianto & Evi (1992), penyebab penyakit secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu penyakit nonparasiter adalah penyakit yang ditimbulkan bukan oleh hama dan organisme parasit, sedangkan penyakit parasiter diakibatkan oleh parasit. Organisme parasit adalah organisme yang hidup di dalam atau pada tubuh organisme lain, dan mendapatkan makanan untuk hidupnya tanpa adanya kompensasi apapun (Brotowidjoyo, 1987 ). Parasit adalah hewan / tumbuhan yang hidup atas pengorbanan induk semangnya (hewan / tumbuhan lainnya). Jadi parasit itu dengan suatu cara, menyakiti semangnya (Noble & Noble, 1989 ).
            Faktor-faktor yang dapat menyebabkan berkembang luasnya penyakit pada ikan (Mudjiman & Suyanto, 1989) adalah :
1. Sumber air yang tercemar oleh sampah, sisa pupuk, makanan, dan pencemaran
oleh pestisida.
2. Kepadatan ikan budidaya yang terlalu tinggi.
3. Immunitas tubuh ikan yang kurang bagus dan jelek, dapat diakibatkan karena perawatan yang kurang optimal.
4. Masuknya benih penyakit parasit ikan dari tempat lain melalui air, ataupun yang lainnya.
            Menurut sistematika penyebabnya, penyakit ikan golongan parasit dibagi menjadi penyakit yang disebabkan oleh Protozoa, Helminthes (cacing), dan Crustacea (udang-udangan), (Sugiarti, 2005).

2.3. Jenis -jenis jamur yang bersifat parasit pada Ikan Gurami.
a.Jamur Saprolegnia sp.
            Saprolegnia merupakan genus jamur yang termasuk dalam kelas Oomycetes. Dalam kolam, jamur ini kerap dipakai sebagai nama umum untuk serangan jamur yang menyerupai kapas pada permukaan tubuh ikan. Pada kenyataannya banyak genus dari Oomycetes yang dapat menyebabkan infeksi jamur pada ikan, diantaranya adalah Achlya.
            Menurut Anonim (1991), jamur Saprolegnia merupakan jamur yang bisa menyebabkan saprolegniasis. Serangan jamur ini biasanya menyebabkan perubahan pada warna kulit, lama-lama akan menyebabkan
kerusakkan jaringan kulit, otot pada tubuh ikan.
            Klasifikasi Saprolegnia sp. Menurut Gupta (1981) :
                        Sub Divisio     : Eumycetes
                        Kelas               : Phycomycetes
                        Sub kelas         : Oomycetes
                        Ordo                : Saprolegniales
                        Famili              : Saprolegniasease
                        Genus              : Saprolegnia
                        Species            : Saprolegnia sp.
            Saprolegnia atau dikenal juga sebagai "water molds" dapat menyerang ikan dan juga telur ikan.Mereka umum dijumpai pada air tawar maupun air payau. Jamur ini dapat tumbuh pada selang suhu 0-35 °C, dengan selang pertumbuhan optimal 15 – 30 °C. Pada umumnya,Saprolegnia akan menyerang bagian tubuh ikan yang terluka, dan selanjutnya dapat pula menyebar pada jaringan sehat lainnya. Serangan Saprolegnia biasanya berkaitan dengan kondisi kualitas air yang buruk (sirkulasi air rendah, kadar oksigen terlarut rendah, atau kadar amonia
tinggi, dan kadar bahan organik tinggi). Kehadiran Saproglegnia sering pula disertai dengan kahadiran infeksi bakteri Columnaris, atau parasit  eksernal lainnya.

b. Branchiomycosis
            Branchiomyces demigrans adalah jenis jamur yang menyebabkan "Gill Rot (busuk insang)". Spesies tersebut biasanya dijumpai pada ikan yang mengalami stres lingkungan, seperti pH rendah (5.8 - 6.5), kandungan oksigen rendah atau pertumbuhan algae yang berlebih dalam kolam budidaya, Branchiomyces sp. tumbuh pada temperatur 14 – 35 °C , pertumbuhan optimal biasanya terjadi pada selang suhu 25 – 31 °C. Penyebab utama infeksi biasanya adalah spora jamur yang terbawa air dan kotoran pada dasar kolam budidaya.
c. Jamur Icththyophonus
            Beberapa jamur diketahui juga menyerang bagian dalam jaringan tubuh ikan. Icththyophonus, misalnya diketahui sebagai jamur sistemik yang menyerang ikan. Icththyophonus dapat menginfeksi bagian organ tubuh ikan dan menimbulkan gupalan (nodul) yang mirip seperti terjadi pada kasus TBC ikan. Untuk serangan jamur sistemik ini belum tersedia obat yang dijual secara komersial.

2.4. Tingkat Infeksi Oleh Jamur
            Jamur sering kali menyerang segala organisme, baik budidaya ataupun yang lainnya. Jamur akan tumbuh subur pada lingkungan yang cenderung kelembaban tinggi. Apalagi pada lingkungan berair, pengaruh kondisi yang tidak normal dapat menyebabkan populasi jamur diperairan meningkat. Pada kolam budidaya polikultur banyak jenis ikan yang dibudidayakan, hal ini juga dapat berpengaruh pada meningkatnya penyakit jamur yang menyerang. Kolam yang tingkat kepadatan populasinya tinggi akan lebih mudah menyerang jenis ikan didalamnya (Jangkaru, 1995).

2.5. Histologi Ikan Yang Terserang Penyakit Jamur
            Irawan (2004) mengemukakan bahwa ikan yang terserang jamur biasanya akan menjadi kurus, berenang menyentak-nyentak, tutup insang tidak dapat menutupi dengan sempurna karena insangnya rusak. Gusrina, (2008), mengemukakan gejala sepesifik infeksi oleh jamur pada ikan antara lain : pernafasan ikan meningkat, produksi lendir berlebih, insang yang terserang berubah warnanya menjadi pucat dan keputih-putihan. Ikan yang terserang jamur terdapat tanda-tanda antara lain adanya bintik putih keabuan pada bagian tubuh yang terserang terutama kepala dan punggung, terdapat luka di sekitar tubuhnya, nafsu makan hilang hingga ikan menjadi kurus dan lemah, produksi lendir bertambah banyak sehingga ikan nampak mengkilat, bergerak tidak aktif dan cenderung berada di permukaan air. Tanda kehadiran penyakit jamur, seperti Saprolegnia biasanya ditandai dengan munculnya "benda" seperti kapas, berwarna putih, terkadang dengan kombinasi kelabu dan coklat, pada permukaan tubuhnya (pada kulit, sirip, insang, mata atau telur ikan).
            Apabila diamati di bawah mikroskop maka akan tampak jamur ini seperti sebuah pohon yang bercabang-cabang. Tanda umum terserang penyakit biasanya berlangsung melalui pencernaan, yaitu melalui spora yang termakan. Oleh karena itu, ikan yang terserang ringan sampai sedang biasanya tidak menunjukkan gejala penyakit. Pada kasus serangan berat, kulit ikan tampak berubah kasar seperti amplas. Hal ini disebabkan terjadinya infeksi dibagian bawah kulit dan jaringan otot. Ikan dapat pula menunjukkan gejala pembengkokan tulang. Bagian dalam ikan akan pada umumnya tampak membengkak disertai dengan luka-luka berwarna kelabu-putih.

2.6. Kualitas Air
            Air adalah unsur penunjang terpenting dalam kegiatan usaha budidaya ikan. Secara umum kualitas dapat dilihat dari 3 faktor, yaitu faktor fisik, kimiawi, dan biologi. Menurut Departemen pertanian (1996), ikan gurami dapat hidup pada air tawar sampai sedikit payau (kadar garam 5 promil). Jangkaru (1995) mengungkapkan bahwa kualitas air adalah variabel–variabel yang dapat mempengaruhi kehidupan ikan dan binatang lainnya. Sehingga kualitas air sangat penting peranannya dalam kehidupan biota perairan. Lesmana (2001) menyatakan peran air adalah sebagai media, baik sebagai media internal ataupun eksternal. Sebagai media internal air berfungsi sebagai bahan baku untuk reaksi di dalam tubuh, pengangkut bahan makanan keseluruh tubuh dan pengatur atau penyangga suhu tubuh. Sebagai media eksternal air berfungsi sebagai habitatnya.
            2.6.1 Suhu Air
                        Suhu merupakan faktor pembatas utama pada habitat aquatik. Suhu            air mempunyai pengaruh universal dan juga merupakan faktor pembatas          bagi organisme aquatik dalam pertumbuhannya dan distribusinya, karena   organisme tersebut seringkali kurang dapat mentolelir perubahan suhu         (Odum, 1971). Kisaran suhu yang optimum bagi kehidupan ikan adalah       25-52ºC (Kordi, 2004). Menurut Sitanggang & Sarwono (2002), suhu air           untuk budidaya gurami adalah 24-28 ºC. Penyebaran suhu dalam perairan   dapat terjadi karena adanya penyerapan angin dan aliran tegak. Faktor-    faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya suhu adalah : altitude (letak            ketinggian dari permukaan laut), musim, cuaca, waktu pengukuran dan       kedalaman air.
            2.6.2 pH (point of Hidrogen).
                        pH air menunjukkan aktivitas ion hidrogen dalam larutan tersebut   dan dinyatakan sebagai konsentrasi ion hidrogen (dalam mol per liter)           pada suhu tertentu (Kordi,2004). Dengan demikian, nilai pH suatu perairan akan menunjukkan apakah air bereaksi asam atau basa. pH yang      diinginkan untuk kehidupan ikan gurami berkisar antara 7-8       (Puspowardoyo & Djarijah, 1992). Nilai keasaman pada air (pH)     merupakan indikasi atau tanda kalau air bersifat asam basa (alkali atau    netral) (Odum, 1971). Air merupakan kombinasi dari hidrogen (H) dan            oksigen (O2) dengan perbandingan dua atom hidrogen dan satu atom         Oksigen. Nilai maksimal untuk derajat keasaman adalah 14 (Lesmana,            2001). Zonneveld et al. (1991) melaporkan bahwa nilai pH yang baik     untuk budidaya ikan pada kolam air tenang adalah 6,7 –8,2. Sedangkan      ikan gurami akan tumbuh dengan baik pada kisaran pH antara 6,5 –7,5 (Anonim,1998).
            2.6.3 Penetrasi Cahaya.
                        Cahaya berpengaruh terhadap ketersediaan makanan dalam             perairan. Cahaya matahari akan digunakan oleh organisme akuatik.     Zooplankton dan fitoplankton yang memerlukan cahaya matahari untuk             pertumbuhan. Ikan Gurame merupakan ikan yang memakan zooplankton    dan fitoplankton, jadi kalau penetrasi cahayanya tinggi.
BAB III
KEGIATAN BUDIDAYA PERAIRAN
            Lokasi kolam budidaya yang pertama saya kunjungi terletak di Jalan Kuansing RT 03/07 kelurahan maharatu, kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Wawancara dilakukan kepada Bapak Adnan M. Yudin selaku pemilik kolam budidaya yang terletak dibelakang rumah Bapak tersebut.
            Wadah yang digunakan dalam budidaya perairan tersebut menggunakan kolam dengan 10 meter (panjang) X 15 meter (lebar). Dengan kedalaman kolam kurang lebih 1 meter. Sumber air berasal dari tadahan air hujan dan air diganti dengan air yang berasal dari parit-parit(selokan) yang berada di depan rumah Bapak tersebut yang mengalir ke samping menuju ke kolam budidaya gurami. Kualitas air di kolam budidaya tersebut tergolong cukup baik dengan pH yang normal dengan tingkat kecerahan yang sesuai dengan ikan tersebut sehingga ikan  nyaman tinggal di kolam tersebut.
            Jenis Ikan yang dibudidayakan dalam kolam budidaya ini adalah ikan Gurami yang berjumlah 400 ekor. Sumber benih diperoleh dari agen atau penjual benih ikan yang berjualan keliling ke setiap rumah-rumah warga. Ia membeli benih ikan gurami seharga 250 rupiah per ekornya.
            Pakan yang diberikan kepada ikan gurami berupa pelet yang setiap harinya diberikan 2 kali yaitu pada waktu pagi hari dan sore hari dengan setengah kilogram pelet setiap pemberian pakan. Kolam ikan yang dimiliki Bapak tersebut baru dibuat sekitar 1 tahun, sedangkan usaha budidaya ikan yang dilakukannya baru berjalan sekitar 5 bulan, sehingga belum bisa di lakukan panen dan produksi.
            Permasalahan yang didapatkan selama membudidayakan ikan gurami yaitu pada waktu ikan-ikan masih kecil ketika hujan datang, 1 atau 2 ikan ada yang mati.
            Tempat kedua yang saya kunjungi terletak di jalan rajawali sakti no. 127, Simpangbaru, Panam, Pekanbaru. Tempat yang saja kunjungi ini membudidayakan ikan-ikan hias, pembenihan, dan menjual pakan ikan ini milik Bapak Ridwan yang berawal dari hobby, ia memulai usahanya sejak tahun 2011. Dengan bermacam-macam jenis ikan hias seperti ikan cupang, platy, mas koki, goby, dan lohan. Namun yang relatif adalah ikan cupang dan ikan goby. Dengan bermacam-macam ukuran akuarium yang kira-kira berjumlah sebanyak 300 akuarium ada yang sebesar 70x30 untuk 400 ekor dengan ukuran <5cm, untuk ikan mas koki mutiara/tikus, untuk cupang 15x20, dan ada yang 120x 50. Sumber air yang digunakan berasal dari sumur bor, dengan pH berkisar antara 6 sampai 7, dengan suhu yang normal sekitar 27-30ºC, dengan kecerahan yang normal atau tidak keruh.
            Sumber benih melalui pembibitan sendiri, dengan hanya membeli indukannya lalu memijahkannya sendiri. Untuk ikan yang beranak bisa menghasilkan hingga 50 ekor benih sekali memijah, bila ikan petelur bisa menghasilkan 200-250 ekor benih untuk sekali memijah. Untuk indukannya ada yang berasal dari Pekanbaru, dan dari kota-kota lainnya seperti medan. Untuk Pakan ikannya sendiri relatif, terkadang ada orang yang memberikan pakan hidup, ada juga yang hanya memberikan sekedar pelet saja. Pakan hidup seperti, udang, cacing, kutu air (daphnia). Untuk pemberian pakan juga relatif ada yang 3x1hari, ada yang 2x1hari dan bahkan ada yang hanya 1x1hari. Pakan hidup seperti cacing dibeli dengan harga 5000 rupiah, namun tahan lama. Untuk ikan cupang dipisahkan/ 1 akuarium untuk 1 ikan cupang karena ikan cupang adalah ikan yang petarung, sehingga harus dipisahkan. Dan untuk ikan-ikan yang sedang sakit akan dipisahkan dari ikan-ikan yang lainnya dan di rawat atau di obati bisa dengan memberikan garam (sebagai antibiotik) dan air biasa.
            Panen dilakukan ketika ikan sudah 2-3 bulan keatas. Ikan-ikan hias tersebut diproduksikan di sekitar Pekanbaru dan untuk ikan cupang ada yang dikirim ke luar-luar kota, namun untuk ikan-ikan hias yang lainnya hanya di Pekanbaru saja. Biasanya ada yang menjemput ikan-ikan hias tersebut ke tokonya itu baru di jual lagi ke pasar-pasar. Untuk harga ikan mas koki mutiara/tikus berkisar antara Rp. 20.000-30.000 per ekornya, dan ikan-ikan goby dan platy dengan harga berkisar Rp. 10.000, dan ikan-ikan cupang dengan harga Rp. 5000-20.000.  Penghasilan yang didapatkan oleh Pak Ridwan relatif, namun tidak pernah mengalami kerugian.   
            Permasalah yang di dapatkan dari pembudidayaan ikan-ikan hias yaitu, dari pakannya saja. Pakan hidup sulit dicari biasanya ketika musim hujan tiba (contohnya cacing). Serta ikan-ikan yang mati, jika terlalu padat pasti ada ikan yang mati, dalam 2 hari pasti ada ikan yang mati 2/3 ekor ikan. Namun Pak Ridwan mengatakan bahwa dirinya tetap tidak mengalami kerugian, karena tergantung bagaimana kita mengisi/mengatur padatnya akuarium harus sesuai besar akuarium dengan jumlah ikan. 
           

         



BAB IV
KESIMPULAN
            Dari penjelasan yang sudah diuraikan oleh kedua pengusaha budidaya perikanan yang saya temui tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa;

1.      Pembudidayaan yang dilakukan sudah baik, sehingga tidak mengalami kerugian,
2.      Ikan-ikan yang dibudidayakan harus yang bernilai ekonomi tinggi serta cara perawatannya mudah,
3.      Membudidayakan ikan konsumsi dan ikan hias tentunya akan bernilai ekonomi yang tinggi sehingga bisa manambah penghasilan,
4.      Kerja keras akan membuahkan hasil (apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai)

5.      Pakan ikan yang diberikan ada yang berupa pelet dan ada juga yang berupa pakan hidup (seperti udang, cacing, kutu air).

No comments:

Post a Comment