BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikan Gurami (Osphronemus
goramy) adalah sejenis ikan air tawar yang populer dan disukai sebagai ikan
konsumsi di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di samping
itu, di negara-negara lainnya gurami juga sering dipelihara dalam akuarium. Umumnya
dikenal dengan nama gurami, ikan ini juga memiliki beberapa sebutan lokal
seperti gurame (Sd.); grameh
(Jw.); kalui
(Jb.); ikan kali
(Plg.), dan lain-lain.
Ikan yang lebar dan pipih. Panjang tubuh (SL,
standard length) 2,0-2,1 kali
tinggi tubuh; panjang tubuh total (dengan sirip ekor) bisa mencapai 1.000 mm.
Sirip perut dengan jari-jari pertama yang pendek berupa duri dan jari-jari
kedua yang lentur panjang serupa cambuk. Rumus sirip punggung (dorsal) XI-XIV (jari-jari keras atau
duri) dan 12-14 (jari-jari lunak); sementara sirip dubur (anal) X-XI dan 20-23. Ikan yang muda memiliki
moncong yang meruncing, dengan 8-10 pita melintang (belang) di tubuhnya. Jika
beranjak dewasa warna-warna ini memudar, dan kepala ikan akan membengkak secara
tidak teratur.
Ikan gurami terutama digemari sebagai ikan
konsumsi. Dagingnya padat, durinya besar-besar, rasanya enak dan gurih. Gurami
hampir selalu tersedia di restoran, untuk dijadikan pelbagai macam masakan
terutama gurami bakar dan gurami asam-manis. Ikan ini berharga cukup mahal. Gurami
juga disukai sebagai ikan hias akuarium.
Gurami semula menyebar di pulau-pulau Sunda Besar (Sumatra, Jawa, dan Kalimantan), namun kini telah dipelihara sebagai ikan konsumsi di
berbagai negara di Asia (terutama Asia Tenggara dan Asia Selatan)
serta di Australia. Di alam, gurami hidup di sungai-sungai, rawa dan kolam, termasuk pula di air payau; namun paling menyukai kolam-kolam dangkal dengan banyak
tumbuhan. Sesekali ikan ini muncul ke permukaan untuk bernapas langsung dari
udara.
Induk gurami, untuk beberapa waktu lamanya,
menjaga dan memelihara anak-anaknya. Telurnya dilekatkan di tetumbuhan air atau
ditaruh di sarang yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Gurami terutama adalah
pemakan tumbuhan, namun mau juga memangsa serangga, ikan lain, dan juga barang-barang yang membusuk
di air. Dari sifatnya yang rakus tumbuhan itu, gurami juga dimanfaatkan sebagai
pengendali gulma di kolam-kolam.
Secara garis besar, budidaya gurami dibagi dalam 3 bagian
utama, ini disebabkan pertumbuhan gurami yang lambat. ketiga bagian tersebut adalah:
- Pembibitan:
Pembudidaya menyiapkan Induk
Gurami (jantan dan betina) untuk
dipijahkan (bertelur),
- Pendederan:
Pembudidaya menetaskan telur menjadi larva hingga gurami dengan ukuran tertentu,
biasanya ukuran 125 gram/ekor, atau 8 ekor/kg
- Pembesaran:
Pembubidaya membesarkan gurami dari ukuran 125 gram/ekor menjadi
400 gram hingga 1 kg/ekor, umumnya
disebut sebagai ukuran konsumsi.
Pembudidaya gurami dapat memilih ketiga
bagian tersebut atau memilih salah satu bagian saja, biasanya berhubungan
dengan luas lahan dan kemampuan budidaya. Dapat dilakukan pada kolam
tanah, kolam semen,
kolam plastik/terpal. Umumnya di kolam
tanah dengan beberapa
alasan. Induk gurami akan terangsang dan segera memijah pada kolam
tanah yang sudah dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3-4 hari, kolam
berukuran 6 x 20 m2 ditempatkan beberapa pasang induk.
Pasangan gurami terdiri atas 3 ekor betina dan 1 ekor jantan. Induk yang baik setelah berusia 3 tahun atau
lebih, dengan bobot lebih dari 3 kg/ekor. Setiap induk gurami betina dapat menghasilkan 3,000 hingga 10,000 butir
telur pada setiap kali bertelur, jumlah telur
berkaitan dengan usia dan jenis (species) induk.
Ketinggian air pada kolam antara 80 - 100cm,
agar induk gurami dapat dengan leluasa membangun sarang untuk bertelur. Seperti umumnya keluarga/(family) Osphronemidae induk gurami, akan membangun sarang untuk bertelur. Gurami yang hidup di alam, akan membangun sarang menggunakan bahan dari rumput kering sekitar tepi danau, rawa, sungai (lubuk) dsb. Pada budidaya, pembudidaya menyediakan bahan sarang berupa rumput kering, ijuk atau sabut
kelapa yang sudah
disisir, yang ditaruh pada para-para dari bambu atau bahan lainnya. Umumnya pembudidaya
menggunakan ijuk karena mudah didapat.
2 hari sejak penempatan telur di dalam
wadah/tempat penetasan, telur akan menetas menjadi larva, proses penetasan
untuk seluruh telur yang terbuahi, akan berlangsung selama 4-5 hari. Larva
sudah mulai bergerak dan berenang, tetapi belum memerlukan makanan, karena
larva masih menggendong persediaan bahan makanan berupa kuning telur.
Pembudidaya harus menyiapkan pakan setelah larva berusia 10 hari berupa tepung
pakan ikan, cacing
sutera (tubifex), artemia, kutu
air (Daphnia), atau lainnya.
Setelah 20 hari, tampak bentuk gurami kecil
dengan ukuran sekitar 1 cm, dan biasanya pada usia 2 bulan (60 hari) ukuran
gurami sudah mencapai 5 cm, ukuran ini sudah siap untuk ditebarkan ke kolam
pembesaran. Sebagaian
Pembudidaya Pendederan
masih melanjutkan budidaya sampai ikan mencapai bobot sekitar 125 gram. Pendederan
mulai usia 20 hari hingga 5-6 bulan, dilakukan di kolam semen, terpal, plastik
dlsb. Pada pendederan jarang dilakukan di kolam tanah. Kolam dengan ukuran 4 x
6 m2, dapat ditebar bibit sebanyak 10,000 ekor. Pakan gurami setalah usia
diatas 4 bulan, pembudidaya memberi pakan hijauan berupa cacahan daun kangkung, daun bira/sente, talas/keladi dsb.
|
Ikan Cupang
|
|
B. splendens
|
|
|
|
Kerajaan:
|
|
|
Filum:
|
|
|
Kelas:
|
|
|
Ordo:
|
|
|
Famili:
|
|
|
Genus:
|
|
|
Spesies:
|
Betta Sp.
|
|
|
|
|
|
Ikan Cupang (Betta
sp.) adalah ikan air tawar yang habitat asalnya adalah beberapa negara
di Asia Tenggara, antara lain Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Vietnam. Ikan ini mempunyai bentuk dan karakter yang unik dan
cenderung agresif dalam mempertahankan wilayahnya. Di
kalangan penggemar, ikan cupang umumnya terbagi atas tiga golongan, yaitu
cupang hias, cupang aduan, dan cupang liar. Di Indonesia
terdapat cupang asli,salah satunya adalah Betta channoides yang ditemukan di Pampang, Kalimantan Timur.
Ikan cupang adalah salah satu ikan yang kuat
bertahan hidup dalam waktu lama sehingga apabila ikan tersebut ditempatkan di
wadah dengan volume air sedikit dan tanpa adanya alat sirkulasi udara (aerator), ikan ini masih dapat bertahan hidup.
·
Jenis
Perkembangan variasi ditinjau dari segi bentuk dan warna
terbilang pesat dalam beberapa generasi terakhir. Beberapa jenis cupang yang
dikenal sekarang ini:
Betta unimaculata (Golden Slender)
Betta picta (Painted Betta)
Betta edithae (Betta Brederi)
Betta foerschi (Purple Saphire Betta)
Ikan cupang di atas dikenal sebagai mouth breeder yaitu ikan cupang yang mengerami telurnya di
dalam mulut, sedangkan kelompok di bawah ini yang merupakan kerabat ikan cupang
(betta), yang membangun sarangnya dengan busa (bublle nest)
Betta akarensis (Sarawak Betta)
Betta bellica (Standard's Betta)
Betta tesyae (Peaceful Betta)
Betta smaragdina (Emerald Betta)
Jenis ikan cupang lain yang dikenal sebagai:
Betta albimarginata
Betta balunga
Betta breviobesus
Cupang
hias
Cupang
hias dibagi lagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
·
Halfmoon (setengah bulan), cupang jenis ini memiliki sirip dan
ekor yang lebar dan simetris menyerupai bentuk bulan setengah. Jenis cupang ini
pertama kali dibudidaya di Amerika Serikat oleh Peter
Goettner pada
tahun 1982.
·
Crowntail (ekor mahkota) atau serit
·
Double tail (ekor ganda)
·
Plakat Halfmoon
·
giant (cupang raksasa), cupang jenis ini merupakan hasil
perkawinan silang antara cupang biasa dengan cupang alam, cupang jenis ini
ukurannya bisa mencapai 12 cm
DESKRIPSI IKAN MAS KOKI
Klasifikasi Sistematika ikan
mas Koki adalah :
Kelas
:
Osteichthyes
Sub
Kelas :
Teleostei
Ordo :
Cypriniformes
Sub
ordo :
Cyprinoidea
Famili
:
Cyprinidae
Genus
:
Carassius
Spesies
: Carassius auratus
Morfologi Ikan Mas Koki
Mas Koki
memiliki tubuh gendut pendek, punggung agak bongkok, sirip yang lengkap seperti
sirip punggung, sirip dada, sirip perut, dan sirip ekor. Bentuk badan mas Koki
biasanya pendek dan gempal yang menjadi salah satu ciri khas tersendiri.
Dibawah ini adalah ciri-ciri calon induk mas Koki yang siap dijadikan induk:
1. Umur calon induk minimal 8 bulan, tetapi yang lebih baik berumur 1 tahun.
2. Sehat dan tidak mengalami stress.
3. Tubuhnya tidak ada luka.
4. Tidak sedang terserang penyakit atau parasit.
5. Tubuhnya normal dan tidak cacat.
Habitat dan Penyebarannya
Habitat
Ikan Koki adalah air yang tergenang, aliran airnya lambat, dangkal , bersih dan
biasanya berada didaerah sungai atau danau. Mas Koki dapat bertahan hidup pada
air ber pH 6-7 dengan suhu 27-300 C, kandungan oksigen terlarut ≥ 5 ppm.
Jenis-Jenis Koki
Saat ini
varietas koki menyusut, dari ratusan menjadi lima belas saja yang dikenal dan
digemari orang. Jenis-jenis itu sebagai berikut.
a. Lion Head (Kepala Singa)
Koki jenis ini
paling digandrungi hobiis dan harganya relative tinggi, tentu saja yang
kualitasnya memenuhi standar kontes. Koki ini memiliki tubuh gendut dan pendek.
Keindahan dan keunikannya terletak pada kepalanya yang berjambul mirip kepala
singa (lion head). Selain itu, ciri khas lainnya adalah punggungnya yang
bengkok dan tak bersirip. Sirip dada, perut dan ekor umumnya pendek. Hanya
varian lion head slayer yang memiliki sirip ekor panjang menjuntai mirip
selendang dengan warna kuning keemasan.
b. Pearl Scale (Sisik Mutiara)
Selain lion
head, pearl scale (terutama yang berjambul) juga banyak dicari orang. Sisik mutiara
memeang mempunyai dua jenis, yakni yang berjambul (mutiara jambul) dan tidak
berjambul (mutiara pingpong atau tikus). Koki ini memiliki sisik benjol-benjol
seperti mutiara (pearl), yang umumnya berwarna putih kemerahan hingga kuning
emas dengan warna dasar merah atau jingga. Sebenarnya, banyak sekali ragam
warnanya, tetapi yang paling langka adalah yang berwarna hitam polos.
c. Tosa (Si Ekor
Rumbai)
Tosa paling
mudah dijumpai di pasaran dan dikalangan pembudidaya. Strain ini sering juga
disebut kokitosa. Bentuk tubuhnya membundar dengan ciri khas sirip punggung,
sirip perut, dan sirip ekornya relative panjang. Bahkan jika pemeliharaan dan
pertumbuhannya baik, sirip ekor ikan ini bisa melebihi panjang tubuhnya. Ketika
berenang, ekornya yang panjang akan melambai-lambai mengikuti arus air.
d. Pencer
(Oranda)
Koki ini sekilas
mirip dengan lion head. Jambul di kepalanya berwarna merah hingga jingga.
Diduga lion head merupakan perkembangan dari oranda. Yang membedakan kedua
jenis ini adalah adanya sirip punggung pad oranda. Sirip dada dan sirip ekornya
juga lebih panjang daripada sirip yang dimiliki lion head. Warna tubuh oranda
bermacam-macam. Bentuk tubuhnya pendek dan gemuk agak membulat, berkombinasi
dengan sirip-sirip yang panjang melambai-lambai.
e. Calico
(Kaliko)
Ciri utama
kaliko adalah kombinasi warna yang beraneka ragam. Dari jenis koki, kaliko
adalah yang paling kaya akan warna. Uumnya, kombinasi warna tersebut merupakan
perpaduan antara warna hitam, putih, jingga, biru, dan merah. Warna-warna terebut
berpadu secara acak dan tidak beraturan. Semakin lengkap dan serasi perpaduan
warnanya, harganya juga akan semakin mahal.
f. Bubble Eye (Mata Balon)
Koki ini
mempunyai keunikan berupa gelembung mirip balon yang menggantung dibawah
matanya. Gelembung ini akan bergoyang-goyang ketika koki berenang. Bentuk fisik
hamper sama denga koki lainnya, tubuhnya montok dengan sirip ekor mekar
bercabang empat.
g. Sukiyu
(Pompon)
Secara umum,
bentuk koki ini sama dengan jenis lion head. Ciri yang membedakannya adalah
pada koki pompon terdapat jaringan seperti lumut dihidungnya, menyerupai kumis.
Warna koki pompon masih sama dengan yang lain yaitu merah, putih, dan kaliko.
h. Fan Tail (Si Ekor
Kipas)
Bentuk tubuh dan
kepalanya memiliki kesamaan dengan koki tosa. Hanya, sirip punggung dan ekornya
lebih pendek. Sirip ekornya ini menyerupai kipas sehingga disebut koki ekor
kipas (Fan Tail).
i. Tosakin
Jenis ini juga
hamper menyerupai koki tosa. Keistimewaannya adalah warna ekornya yang meriah
menyerupai ekor burung merak.
PEMIJAHAN IKAN MAS KOKI
Perawatan Calon Induk
Bakalan induk
yang terpilih sebaiknya dipisahkan berdasarkan jenis kelaminnya. Indukan koki
akan siap dipijahkan setelah berumur 6-7 bulan. Selam dipisahkan, bakalan induk
tersebut harus dirawat secara benar agar mendpatkan induk yang bagus. Pada
dasarnya, merawat bakalan tidak jauh berbeda dengan merawat koki atau ikan hias
pada umunya.
Sebelum
melakukan perawatan bakalan induk, pembudidaya haru menyiapkan kolam pemisahan
bakalan induk yang berukuran 4 x 6 m. kolam ini sebaiknya pernah dipakai dan
berlumut, tetapi sebelumnya lumutnya harus dibersihkan dan dikurangi terebih
dahulu. Setelah itu kolam dikeringkan dan di jemur pada panas matahari kuarang
lebih selama 2-3 hari. pengeringan ini bertujuan untuk mematikan bibit penyakit
yang dapat menyerang koki selama perawatan.
Selanjutnya,
air dimasukkan kedalamya. Ketinggian air dikolam ini cukup 20-30 cm. sebaiknya
air yang digunakan adalah air sumur yang sudah diendapkan selama 24 jam agar pH
dan suhunya normal. Koki sebaiknya dimasukkan kedalam kolam saat suhu air
rendah, yaitu pada pagi atau sore hari. Tujuanya untuk mengurangi stress pada
koki saat dipindahkan. Kenaikan atau penurunan suhu yang perlahan pada pagi
atau sore hari akan memudahkan koki beradaptasi. Bakalan induk yang bisa
dimasukkan kedalamnya sebanyak 50 ekor.
Jika bakalan induk adalah hasil dari kolam sendiri, pemindahannya dapat
dilakukan dengan menggunakan ember plastik. Caranya,masukkan ember kedala kolam
sampai bibirnya tenggelam, biarkan koki berenang keluar dengan sendirinya. Jika
bakalan induk diperoleh dengan membeli dari orang lain, pemindahannya dilakukan
dengan melakukan adaptasi terlebih dahulu. Caranya, masukkan kantong plastik
yang berisi koki kedalam kolam, biarkan selama 30 menit. Setelah 30 menit, suhu
air didalam kantong plastik akan sama dengan suhu air di kolam. Kemudian,
pengikat kantong plastic dapat dilepaskan dan dibiarkan koki keluar dengan
lingkungan barunya.
Pemberian Pakan
Setelah
dilepaskan ke kolam yang baru, koki jangan langsung diberi makan. Biarkan koki
tersebut mengenal lingkungan barunya terlebih dahulu. Frekuensi pemberian pakan
yang ideal adalah dua kali sehari, yaitu pada pukul 10.00 pagi dan pukul 15.00
sore. Frekuensi ini di anggap ideal karena koki adalah jenis ikan yang mencari
makan pada siang hari dan pada jam-jam tersebut kandungan oksigen di air sedang
tinggi sehingga memacu nafsu makan koki.
Penggantian Air
Penggantian air
sebaiknya dilakukan satu minggu sekali dengan tetap memantau kondisi air. Jika
suhu dan pH air mengalami perubahan atau air sudah tampak keruh, pergantian air
harus dilakukan sebelum satu minggu. Pergantian air kolam yang terlalu sering
tidak bagus untuk bakalan induk koki karena dapat melunturkan warnanya dan akan
memaksa koki untuk terus beradaptasi dengan air yang baru. Namun, jika
pergantian jarang dilakukan, bibit penyakit mudah muncul.
Penyortiran
Tindakan
penyortiran dimaksudkan untuk memilih bakalan yang unggul sekaligus untuk
melakukan penjarangan. Setelah satu bulan dipelihara bakalan induk koki akan
mengalami pertumbuhan yang amat pesat, sehingga populasinya harus dikurangi.
Tindakan penyortiran dilakukan minimal setiap bulan hingga koki berumur enam
bulan dan koki siap di pijahkan.
Persiapan Kolam Pemijahan
Kolam pemijahan
berukuran 1 x 4 m. fungsinya untuk mempertemukan induk jantan dan betina yang
telah siap kawin. Sebelum melakukan proses pemijahan, terlebih dahulu kolam
dibersihkan dari kotoran dan lumut. Kolam dikeringkan dan dijemur di panas
matahari kurang lebih 2-3 hari untuk mematikan bibit penyakit yang tertinggal
didalamnya. Selain itu, penjemuran akan membuat air terasa segar
dan hangat ketika dimasukkan kedalam kolam.
Air dimasukkan kedalam kolam hingga ketinggian kurang lebih 20-25 cm. pada
ketinggian ini seluruh air kolam akan mendapatkan sinar matahari yang cukup
sehingga suhu air tetap hangat. Setelah itu, kedalam kolam perlu dimasukkan
tanaman air sebagai substrat pelekatan telur koki.
Persiapan Calon Induk
Setelah koki
berumur 6-7 bulan, pemijahan mulai dapat dilakukan. Sebelu memijahkan koki,
perhatikan cirri-ciri bakalan induk jantan dan betina. Ciri-ciri jantan yang
siap memijah adalah sudah saling mengejar dan menggangu koki lainnya. Ciri
lainnya adalah keluarnya cairan mani berwarna putih
seperti santan atau susu dari lubang pengeluarannya. Cairan ini akan keluar
jika perut koki sedikit ditekan kearah lubang pengeluaran. Keluarnya cairan ini
merupakan pertanda bahwa sel kelamin koki telah matang sehingga sipa
dipijahkan.
Ciri koki betina yang siap memijah adalah perutnya teras empuk dan lembek saat
diraba. Jika perutnya terasa keras, berarti telur koki belum matang. Ciri
lainnya, perut koki akan tampak membesar, lubang kelamin membengkak dan
berwarna kemerahan, serta telur mudah keluar jika perut koki sedikit ditekan.
Seleksi induk,
beberapa pertimbangan yang dipakai untuk melakukan seleksi induk adalah bentuk
fisik, ukuran berat, umur, tingkat kesehatan, dan kematangan gonad. Sekalipun
ikan mas Koki diperairan tropis cenderung cepat matang gonad, namun umur ideal
yang layak dan produktif untuk dipijah adalah 1 tahun dan beratnya telah
mencapai 100 g/ekor. Induk yang akan dipijahkan harus sehat secara fisik, yaitu
tidak terinfeksi oleh penyakit parasit.
Proses Pemijahan
Setelah kolam
pemijahan siap digunakan dan bakalan induk dipilih, pindahkan bakalan induk
kedalam kolam pemijahan. Pemindahan induk ini sebaiknya dilakukan pada sore
hari karena pada malam harinya koki jantan akan mengejar-ngejar koki betina
sambil sekali-sekali menyentuh bagian belakang betina. Jika kondisi demikian
terjadi, itu berarti pemijahan akan terjadi. Pada pagi harinya koki betina akan
membalikkan tubuhnya sembil melepaskan telur, sedangkan koki jantan segera akan
melepaskan sperma untuk membuahinya. Telur koki bersifat adhesif, yaitu akan
menempel dibenda lain yang telah disediakan sebagai substrat pelekatan telur.
Telur yang dihasilkan satu pasang induk koki dapat mencapai 1000-2000 butir,
bahkan koki tosa dan black moor dapat mencapai hingga 8000 butir. Kedua induk
dapat dipijahkan kembali sekitar 20 hari kemudian.
Penetasan Telur
Dalam waktu 3-4
hari telur akan menetas menjadi burayak. Penetasan ini tergantung pada suhu
air. Semakin hangat air, semakin cepat telur menetas. Telur yang tidak menetas,
baik yang menempel disubstrat maupun yang tenggelam didasar kolam, harus segera
dibuang. Telur yang tidak menetas ini dapat mengurangi pasokan oksigen didalam
air dan membusuk menjadi sarang penyakit.
Sambil menunggu menetas, telur dapat dirawat seperlunya dengan mengganti air
kolam. Penggantian air ini tidak dilakukan secara total, cukup separuh air
kolam. Pergantian dilakukan dengan menggunakan selang plastik. Arus yang
ditimbulkan oleh penambahan air baru jangan sampai mengenai telur yang menempel
disubstrat karena telur akan terlepas dan tidak akan menetas. Sebelum berumur 6
hari burayak idak perlu diberi pakan karena masih mempunyai cadangan pakan dalam
kantong kuning telurnya. Setelah itu barulah burayak diberi pakan kutu air.
Pendederan
Setelah berumur
2 minggu, benih koki di pindahkan dari kolam pemijahan ke kolam pendederan.
Untuk satu kolam pendederan berukuran 4 x 6 m, jumlah populasi yang bisa
dimasukkan sebanyak 1000 ekor koki. Dikolam pendederan, benih mulai diberi
pakan cacing sutera (tubifex) yang disaring dengan saringan berdiameter 0,5 mm.
pemberian cacing sutera ini berguna untuk menggemukkan dan memacu pertumbuhan
koki. Stelah berumur 20 hari, sebagian benih koki sudah dapat dijual kepasar
untuk dibesarkan oleh pembudidaya lain.
1.2 Tujuan
1. Mengenal berbagai macam jenis ikan yang dapat
dibudidayakan,
2. Mempelajari berbagai kegiatan budidaya,
3. Mempelajari teknik-teknik pembudidayaan ikan Gurami di
kolam, dan pembudidayaan ikan-ikan hias di akuarium,
4. Mempempelajari jenis-jenis pakan ikan
5. Dapat mengetahui berbagai macam permasalahan budidaya
perairan.
1.3 Metode Penulisan
Metode
penulisan yang digunakan adalah metode pustaka yaitu metode yang
dilakukan dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari pustaka yang
berhubungan dengan alat, baik berupa buku maupun informasi di internet. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu melalui wawancara dengan
pemilik usaha budidaya perairan secara langsung(tinjauan langsung ke
lapangan/tempat kegiatan usaha budidaya).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Deskripsi
Ikan Gurame(Osphronemus gouramy)
Ikan gurame merupakan
jenis ikan konsumsi. Gurame merupakan jenis ikan air tawar, yang mempunyai bentuk
badan agak panjang, pipih, lebar ke samping (compressed). Ikan Gurame umumnya
berbentuk panjang dan ramping perbandingan antara panjang dan tinggi adalah 3 :
1. Sisiknya berukuran besar berwarna gelap pada siripnya. Badannya tertutup
oleh sisik yang besar-besar, terlihat kasar dan kuat. Ukuran matanya besar dan
menonjol tepiannya berwarna putih (Sugiarti, 1988).
Menurut Bachtiar dkk
(2002), dilihat dari morfologi atau bentuk tubuhnya ikan gurame memiliki
ciri-ciri sebagai berikut bentuk badan memanjang dan sedikit pipih ke samping,
mulut terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat disembulkan (protektil)
serta dihiasi dua pasang sungut. Selain itu di dalam mulut terdapat gigi
kerongkongan, dua pasang sungut ikan gurame terletak di bibir bagian atas
tetapi kadang-kadang satu pasang sungut rudimentee atau tidak berfungsi, gigi
kerongkongan (pharyngeal teeth) terdiri atas tiga baris yang berbentuk geraham.
Menurut Nijiyati (1992),
sirip ikan gurame terdiri dari limajenis yaitu sirip dada, punggung, perut,
dubur dan ekor. Ikan gurame memiliki sirip punggung (dorsal) berbentuk
memanjang dan terletak di bagian permukaan tubuh, berseberangan dengan
permukaan sirip perut (ventral). Bagian belakang sirip punggung memiliki jari-jari
keras, sedangkan bagian akhir berbentuk gerigi, sirip 5 dubur
(anal) bagian belakang juga memiliki jari-jari keras dengan bagian akhir
berbentuk gerigi seperti halnya sirip punggung. Sirip ekor berbentuk cagak dan
berukuran cukup besar dengan tipe sisik berbentuk lingkaran (cycloid) yang
terletak beraturan. Gurat sisik atau garis rusuk (linea lateralis) ikan gurame
berada di pertengahan badan dengan posisi melintang dari tutup insang sampai ke
ujung belakang pangkal ekor.
Bagian kepala gurame muda
berbentuk lancip dan akan menjadi tampak bila sudah besar dan terdapat tonjolan
seperti cula pada bagian kepala ikan jantan yang sudah tua. Mulutnya lebar dan
bibir bagian bawah sedikit lebih maju dari pada bibir atas dan dapat
disembulkan ( Sukamsipoetro, 1999 ). Warna badan umumnya biru kehitam-hitaman,
bagian perut berwarna putih, bagian punggung berwarna kecoklatan. Pada ikan
gurame muda terdapat garis tegak berwarna hitam berjumlah ±7 -8 buah dan akan
tidak terlihat bila sudah menjadi ikan dewasa (Respati & Santoso, 1993 ). (
lihat Gambar. 2. 1).
Ikan gurame merupakan
keluarga Anabantidae, keturunan Helostoma dan bangsa Labyrinthici. Ikan gurami
berasal dari perairan daerah Sunda (Jawa Barat, Indonesia), dan menyebar ke
Malaysia, Thailand, Ceylon dan Australia. Masyarakat Indonesia telah lama membudidayakannya
karena mempunyai laju pertumbuhan yang relatif lambat, namun berdaya ekonomi
yang tinggi (Dinas Perikanan Jateng, 1994).
Gambar 2.1. Ikan Gurame yang sehat
Klasifikasi ikan
gurame(Osphronemus gouramy menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut:
Phylum : Chordata
Sub Phylum : Vertebrata
Classis : Pisces
Sub Classis : Teleostei
Ordo : Labyrinthici
Sub Ordo : Anabantoidae
Famili : Anabantidae
Genus : Osphronemus
Species : Osphronemus
gouramy (Lacepede)
2.2 Deskripsi Penyakit Jamur
Penyakit ikan merupakan
segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan suatu fisik/struktur dari alat
tubuh/ sebagian alat tubuh. Gangguan penyakit ini bisa secara langsung atau tak
langsung Sachlan (dalam Afrianto & Evi, 1992). Organisme lain, pakan dan
kondisi lingkungan yang kurang mendukung dapat sebagai sumber penyakit.
Munculnya penyakit karena interaksi yang tidak seimbang antara ikan, kondisi lingkungan
dan organisme penyakit. Demikian,
timbulnya serangan penyakit merupakan hasil interaksi yang tidak serasi antara
ikan, lingkungan, dan jasad/organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini
menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan tubuh yang
dimilikinya menjadi lemah dan akhirnya mudah diserang oleh penyakit (Kordi,
2004).
Menurut Supriyadi (2004),
degradasi lingkungan lahan budidaya akibat tingginya cemaran dan kesalahan
pengelolaan budidaya yang merupakan akibat dari kurang efisiennya bahan baku
produksi merupakan salah satu penyebab munculnya penyakit ikan. Munculnya
penyakit ikan akan berpengaruh pada produksi perikanan yang nantinya merugi.
Menurut Afrianto & Evi
(1992), penyebab penyakit secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu penyakit
nonparasiter adalah penyakit yang ditimbulkan bukan oleh hama dan organisme
parasit, sedangkan penyakit parasiter diakibatkan oleh parasit. Organisme
parasit adalah organisme yang hidup di dalam atau pada tubuh organisme lain,
dan mendapatkan makanan untuk hidupnya tanpa adanya kompensasi apapun (Brotowidjoyo,
1987 ). Parasit adalah hewan / tumbuhan yang hidup atas pengorbanan induk
semangnya (hewan / tumbuhan lainnya). Jadi parasit itu dengan suatu cara,
menyakiti semangnya (Noble & Noble, 1989 ).
Faktor-faktor yang dapat
menyebabkan berkembang luasnya penyakit pada ikan (Mudjiman & Suyanto,
1989) adalah :
1. Sumber air yang tercemar oleh sampah, sisa pupuk, makanan, dan
pencemaran
oleh pestisida.
2. Kepadatan ikan budidaya yang terlalu tinggi.
3. Immunitas tubuh ikan yang kurang bagus dan jelek, dapat diakibatkan
karena perawatan yang kurang optimal.
4. Masuknya benih penyakit parasit ikan dari tempat lain melalui air,
ataupun yang lainnya.
Menurut sistematika
penyebabnya, penyakit ikan golongan parasit dibagi menjadi penyakit yang
disebabkan oleh Protozoa, Helminthes (cacing), dan Crustacea (udang-udangan),
(Sugiarti, 2005).
2.3. Jenis
-jenis jamur yang bersifat parasit pada Ikan Gurami.
a.Jamur Saprolegnia sp.
Saprolegnia merupakan genus jamur yang termasuk dalam kelas Oomycetes. Dalam kolam, jamur ini kerap
dipakai sebagai nama umum untuk serangan jamur yang menyerupai kapas pada
permukaan tubuh ikan. Pada kenyataannya banyak genus dari Oomycetes yang dapat menyebabkan infeksi jamur pada ikan,
diantaranya adalah Achlya.
Menurut
Anonim (1991), jamur Saprolegnia
merupakan jamur yang bisa menyebabkan saprolegniasis. Serangan jamur ini
biasanya menyebabkan perubahan pada warna kulit, lama-lama akan menyebabkan
kerusakkan jaringan kulit, otot pada tubuh ikan.
Klasifikasi Saprolegnia sp. Menurut Gupta (1981) :
Sub Divisio :
Eumycetes
Kelas :
Phycomycetes
Sub kelas :
Oomycetes
Ordo :
Saprolegniales
Famili :
Saprolegniasease
Genus :
Saprolegnia
Species :
Saprolegnia sp.
Saprolegnia atau dikenal juga sebagai "water molds" dapat
menyerang ikan dan juga telur ikan.Mereka umum dijumpai pada air tawar maupun
air payau. Jamur ini dapat tumbuh pada selang suhu 0-35 °C, dengan selang
pertumbuhan optimal 15 – 30 °C. Pada umumnya,Saprolegnia akan menyerang bagian
tubuh ikan yang terluka, dan selanjutnya dapat pula menyebar pada jaringan
sehat lainnya. Serangan Saprolegnia biasanya berkaitan dengan kondisi kualitas
air yang buruk (sirkulasi air rendah, kadar oksigen terlarut rendah, atau kadar
amonia
tinggi, dan kadar bahan organik tinggi). Kehadiran Saproglegnia sering pula disertai dengan kahadiran infeksi bakteri Columnaris, atau
parasit eksernal lainnya.
b. Branchiomycosis
Branchiomyces demigrans adalah
jenis jamur yang menyebabkan "Gill Rot (busuk insang)". Spesies tersebut
biasanya dijumpai pada ikan yang mengalami stres lingkungan, seperti pH rendah
(5.8 - 6.5), kandungan oksigen rendah atau pertumbuhan algae yang berlebih
dalam kolam budidaya, Branchiomyces sp. tumbuh pada temperatur 14 – 35 °C ,
pertumbuhan optimal biasanya terjadi pada selang suhu 25 – 31 °C. Penyebab
utama infeksi biasanya adalah spora jamur yang terbawa air dan kotoran pada
dasar kolam budidaya.
c. Jamur Icththyophonus
Beberapa jamur diketahui
juga menyerang bagian dalam jaringan tubuh ikan. Icththyophonus, misalnya
diketahui sebagai jamur sistemik yang menyerang ikan. Icththyophonus dapat
menginfeksi bagian organ tubuh ikan dan menimbulkan gupalan (nodul) yang mirip
seperti terjadi pada kasus TBC ikan. Untuk serangan jamur sistemik ini belum
tersedia obat yang dijual secara komersial.
2.4. Tingkat
Infeksi Oleh Jamur
Jamur sering kali
menyerang segala organisme, baik budidaya ataupun yang lainnya. Jamur akan
tumbuh subur pada lingkungan yang cenderung kelembaban tinggi. Apalagi pada
lingkungan berair, pengaruh kondisi yang tidak normal dapat menyebabkan
populasi jamur diperairan meningkat. Pada kolam budidaya polikultur banyak
jenis ikan yang dibudidayakan, hal ini juga dapat berpengaruh pada meningkatnya
penyakit jamur yang menyerang. Kolam yang tingkat kepadatan populasinya tinggi
akan lebih mudah menyerang jenis ikan didalamnya (Jangkaru, 1995).
2.5. Histologi
Ikan Yang Terserang Penyakit Jamur
Irawan (2004) mengemukakan
bahwa ikan yang terserang jamur biasanya akan menjadi kurus, berenang
menyentak-nyentak, tutup insang tidak dapat menutupi dengan sempurna karena
insangnya rusak. Gusrina, (2008), mengemukakan gejala sepesifik infeksi oleh
jamur pada ikan antara lain : pernafasan ikan meningkat, produksi lendir
berlebih, insang yang terserang berubah warnanya menjadi pucat dan
keputih-putihan. Ikan yang terserang jamur terdapat tanda-tanda
antara lain adanya bintik putih keabuan pada bagian tubuh yang terserang
terutama kepala dan punggung, terdapat luka di sekitar tubuhnya, nafsu makan
hilang hingga ikan menjadi kurus dan lemah, produksi lendir bertambah banyak
sehingga ikan nampak mengkilat, bergerak tidak aktif dan cenderung berada di
permukaan air. Tanda kehadiran penyakit jamur, seperti Saprolegnia biasanya
ditandai dengan munculnya "benda" seperti kapas, berwarna putih,
terkadang dengan kombinasi kelabu dan coklat, pada permukaan tubuhnya (pada
kulit, sirip, insang, mata atau telur ikan).
Apabila diamati di bawah
mikroskop maka akan tampak jamur ini seperti sebuah pohon yang
bercabang-cabang. Tanda umum terserang penyakit biasanya berlangsung melalui
pencernaan, yaitu melalui spora yang termakan. Oleh karena itu, ikan yang terserang
ringan sampai sedang biasanya tidak menunjukkan gejala penyakit. Pada kasus
serangan berat, kulit ikan tampak berubah kasar seperti amplas. Hal ini
disebabkan terjadinya infeksi dibagian bawah kulit dan jaringan otot. Ikan
dapat pula menunjukkan gejala pembengkokan tulang. Bagian dalam ikan akan pada
umumnya tampak membengkak disertai dengan luka-luka berwarna kelabu-putih.
2.6. Kualitas
Air
Air adalah unsur penunjang
terpenting dalam kegiatan usaha budidaya ikan. Secara umum kualitas dapat dilihat
dari 3 faktor, yaitu faktor fisik, kimiawi, dan biologi. Menurut Departemen
pertanian (1996), ikan gurami dapat hidup pada air tawar sampai sedikit payau
(kadar garam 5 promil). Jangkaru (1995) mengungkapkan bahwa
kualitas air adalah variabel–variabel yang dapat mempengaruhi kehidupan ikan
dan binatang lainnya. Sehingga kualitas air sangat penting peranannya dalam
kehidupan biota perairan. Lesmana (2001) menyatakan peran air adalah sebagai
media, baik sebagai media internal ataupun eksternal. Sebagai media internal
air berfungsi sebagai bahan baku untuk reaksi di dalam tubuh, pengangkut bahan
makanan keseluruh tubuh dan pengatur atau penyangga suhu tubuh. Sebagai media
eksternal air berfungsi sebagai habitatnya.
2.6.1 Suhu Air
Suhu merupakan
faktor pembatas utama pada habitat aquatik. Suhu air mempunyai pengaruh universal dan juga merupakan faktor
pembatas bagi organisme aquatik
dalam pertumbuhannya dan distribusinya, karena organisme
tersebut seringkali kurang dapat mentolelir perubahan suhu (Odum, 1971). Kisaran suhu yang optimum
bagi kehidupan ikan adalah 25-52ºC
(Kordi, 2004). Menurut Sitanggang & Sarwono (2002), suhu air untuk budidaya gurami adalah 24-28 ºC.
Penyebaran suhu dalam perairan dapat
terjadi karena adanya penyerapan angin dan aliran tegak. Faktor- faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya
suhu adalah : altitude (letak ketinggian
dari permukaan laut), musim, cuaca, waktu pengukuran dan kedalaman air.
2.6.2
pH (point of Hidrogen).
pH air menunjukkan aktivitas ion hidrogen dalam larutan
tersebut dan dinyatakan sebagai
konsentrasi ion hidrogen (dalam mol per liter) pada
suhu tertentu (Kordi,2004). Dengan demikian, nilai pH suatu perairan akan menunjukkan apakah air bereaksi asam atau
basa. pH yang diinginkan untuk
kehidupan ikan gurami berkisar antara 7-8 (Puspowardoyo
& Djarijah, 1992). Nilai keasaman pada air (pH) merupakan indikasi atau tanda kalau air bersifat asam basa
(alkali atau netral) (Odum, 1971). Air
merupakan kombinasi dari hidrogen (H) dan oksigen
(O2) dengan perbandingan dua atom hidrogen dan satu atom Oksigen. Nilai maksimal untuk derajat
keasaman adalah 14 (Lesmana, 2001).
Zonneveld et al. (1991) melaporkan bahwa nilai pH yang baik untuk budidaya ikan pada kolam air tenang
adalah 6,7 –8,2. Sedangkan ikan
gurami akan tumbuh dengan baik pada kisaran pH antara 6,5 –7,5 (Anonim,1998).
2.6.3 Penetrasi Cahaya.
Cahaya berpengaruh terhadap ketersediaan makanan dalam perairan. Cahaya matahari akan
digunakan oleh organisme akuatik. Zooplankton
dan fitoplankton yang memerlukan cahaya matahari untuk pertumbuhan. Ikan Gurame merupakan ikan yang memakan
zooplankton dan fitoplankton, jadi
kalau penetrasi cahayanya tinggi.
BAB III
KEGIATAN
BUDIDAYA PERAIRAN
Lokasi kolam budidaya
yang pertama saya kunjungi terletak di Jalan Kuansing RT 03/07 kelurahan
maharatu, kecamatan Marpoyan Damai, Pekanbaru. Wawancara dilakukan kepada Bapak
Adnan M. Yudin selaku pemilik kolam budidaya yang terletak dibelakang rumah
Bapak tersebut.
Wadah yang digunakan dalam budidaya perairan tersebut
menggunakan kolam dengan 10 meter (panjang) X 15 meter (lebar). Dengan kedalaman
kolam kurang lebih 1 meter. Sumber air berasal dari tadahan air hujan dan air
diganti dengan air yang berasal dari parit-parit(selokan) yang berada di depan
rumah Bapak tersebut yang mengalir ke samping menuju ke kolam budidaya gurami.
Kualitas air di kolam budidaya tersebut tergolong cukup baik dengan pH yang
normal dengan tingkat kecerahan yang sesuai dengan ikan tersebut sehingga
ikan nyaman tinggal di kolam tersebut.
Jenis Ikan yang dibudidayakan dalam kolam budidaya ini
adalah ikan Gurami yang berjumlah 400 ekor. Sumber benih diperoleh dari agen
atau penjual benih ikan yang berjualan keliling ke setiap rumah-rumah warga. Ia
membeli benih ikan gurami seharga 250 rupiah per ekornya.
Pakan yang diberikan kepada ikan gurami berupa pelet yang
setiap harinya diberikan 2 kali yaitu pada waktu pagi hari dan sore hari dengan
setengah kilogram pelet setiap pemberian pakan. Kolam ikan yang dimiliki Bapak
tersebut baru dibuat sekitar 1 tahun, sedangkan usaha budidaya ikan yang
dilakukannya baru berjalan sekitar 5 bulan, sehingga belum bisa di lakukan
panen dan produksi.
Permasalahan yang didapatkan selama membudidayakan ikan
gurami yaitu pada waktu ikan-ikan masih kecil ketika hujan datang, 1 atau 2
ikan ada yang mati.
Tempat kedua yang saya kunjungi terletak di jalan
rajawali sakti no. 127, Simpangbaru, Panam, Pekanbaru. Tempat yang saja
kunjungi ini membudidayakan ikan-ikan hias, pembenihan, dan menjual pakan ikan
ini milik Bapak Ridwan yang berawal dari hobby, ia memulai usahanya sejak tahun
2011. Dengan bermacam-macam jenis ikan hias seperti ikan cupang, platy, mas
koki, goby, dan lohan. Namun yang relatif adalah ikan cupang dan ikan goby.
Dengan bermacam-macam ukuran akuarium yang kira-kira berjumlah sebanyak 300 akuarium
ada yang sebesar 70x30 untuk 400 ekor dengan ukuran <5cm, untuk ikan mas
koki mutiara/tikus, untuk cupang 15x20, dan ada yang 120x 50. Sumber air yang
digunakan berasal dari sumur bor, dengan pH berkisar antara 6 sampai 7, dengan
suhu yang normal sekitar 27-30ºC, dengan kecerahan yang normal atau tidak
keruh.
Sumber benih melalui pembibitan sendiri, dengan hanya
membeli indukannya lalu memijahkannya sendiri. Untuk ikan yang beranak bisa
menghasilkan hingga 50 ekor benih sekali memijah, bila ikan petelur bisa
menghasilkan 200-250 ekor benih untuk sekali memijah. Untuk indukannya ada yang
berasal dari Pekanbaru, dan dari kota-kota lainnya seperti medan. Untuk Pakan
ikannya sendiri relatif, terkadang ada orang yang memberikan pakan hidup, ada
juga yang hanya memberikan sekedar pelet saja. Pakan hidup seperti, udang,
cacing, kutu air (daphnia). Untuk pemberian pakan juga relatif ada yang
3x1hari, ada yang 2x1hari dan bahkan ada yang hanya 1x1hari. Pakan hidup
seperti cacing dibeli dengan harga 5000 rupiah, namun tahan lama. Untuk ikan
cupang dipisahkan/ 1 akuarium untuk 1 ikan cupang karena ikan cupang adalah
ikan yang petarung, sehingga harus dipisahkan. Dan untuk ikan-ikan yang sedang
sakit akan dipisahkan dari ikan-ikan yang lainnya dan di rawat atau di obati
bisa dengan memberikan garam (sebagai antibiotik) dan air biasa.
Panen dilakukan ketika ikan sudah 2-3 bulan keatas.
Ikan-ikan hias tersebut diproduksikan di sekitar Pekanbaru dan untuk ikan
cupang ada yang dikirim ke luar-luar kota, namun untuk ikan-ikan hias yang
lainnya hanya di Pekanbaru saja. Biasanya ada yang menjemput ikan-ikan hias
tersebut ke tokonya itu baru di jual lagi ke pasar-pasar. Untuk harga ikan mas
koki mutiara/tikus berkisar antara Rp. 20.000-30.000 per ekornya, dan ikan-ikan
goby dan platy dengan harga berkisar Rp. 10.000, dan ikan-ikan cupang dengan
harga Rp. 5000-20.000. Penghasilan yang
didapatkan oleh Pak Ridwan relatif, namun tidak pernah mengalami kerugian.
Permasalah yang di dapatkan dari pembudidayaan ikan-ikan
hias yaitu, dari pakannya saja. Pakan hidup sulit dicari biasanya ketika musim
hujan tiba (contohnya cacing). Serta ikan-ikan yang mati, jika terlalu padat
pasti ada ikan yang mati, dalam 2 hari pasti ada ikan yang mati 2/3 ekor ikan.
Namun Pak Ridwan mengatakan bahwa dirinya tetap tidak mengalami kerugian,
karena tergantung bagaimana kita mengisi/mengatur padatnya akuarium harus
sesuai besar akuarium dengan jumlah ikan.
BAB IV
KESIMPULAN
Dari
penjelasan yang sudah diuraikan oleh kedua pengusaha budidaya perikanan yang
saya temui tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa;
1.
Pembudidayaan yang
dilakukan sudah baik, sehingga tidak mengalami kerugian,
2.
Ikan-ikan yang
dibudidayakan harus yang bernilai ekonomi tinggi serta cara perawatannya mudah,
3.
Membudidayakan ikan
konsumsi dan ikan hias tentunya akan bernilai ekonomi yang tinggi sehingga bisa
manambah penghasilan,
4.
Kerja keras akan
membuahkan hasil (apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai)
5.
Pakan ikan yang
diberikan ada yang berupa pelet dan ada juga yang berupa pakan hidup (seperti
udang, cacing, kutu air).